Kendari, kendarikota.go.id – Pemerintah Kota Kendari bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari menggelar rapat membahas perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Kendari di Ruang Rapat BPS Lantai II, Kamis (1/10/2026).

Kepala BPS Kota Kendari, Sultriawati Efendy, mengatakan Kota Kendari mengalami inflasi sebesar 0,43 persen secara month-to-month (mtm) dibandingkan Agustus 2026.

Secara tahunan, inflasi Kota Kendari pada September 2026 tercatat sebesar 4,31 persen dibandingkan September 2025. Sementara secara tahun kalender atau year-to-date (ytd), inflasi mencapai 4,29 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan inflasi sebesar 1,14 persen dan memberikan andil 0,35 persen terhadap inflasi umum.

Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,47 persen, pakaian dan alas kaki 0,31 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,22 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,20 persen.
Kelompok pendidikan tercatat mengalami inflasi 0,16 persen, sedangkan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,20 persen. Sementara transportasi serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami perubahan relatif kecil.
BPS Kota Kendari mencatat cabai rawit menjadi komoditas utama penyumbang inflasi September 2026 dengan andil 0,08 persen. Komoditas lainnya yakni ikan layang 0,07 persen, kangkung 0,04 persen, ikan teri 0,03 persen, bayam 0,03 persen, dan kacang panjang 0,02 persen.
Komoditas lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan antara lain ikan cakalang, tarif air minum pikulan, ikan tuna, dan sawi hijau. Sementara komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi antara lain pisang sebesar -0,04 persen dan emas perhiasan -0,03 persen.
Untuk inflasi tahun kalender, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 6,04 persen dengan andil 1,77 persen. Kelompok transportasi juga mencatat inflasi 7,07 persen dengan andil 1,12 persen.
Secara tahunan, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama dengan inflasi 8,78 persen dan andil 1,36 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,96 persen dengan andil 1,18 persen, sedangkan perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 5,27 persen dengan andil 0,51 persen.
Jika dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara, inflasi year-on-year Kota Kendari sebesar 4,31 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Sulawesi Tenggara sebesar 4,17 persen. Sementara inflasi month-to-month Kota Kendari sebesar 0,43 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Sulawesi Tenggara sebesar 0,53 persen.
Secara keseluruhan, inflasi Kota Kendari pada September 2026 tercatat 0,43 persen secara bulanan, 4,29 persen secara tahun kalender, dan 4,31 persen secara tahunan.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Kendari, Dr. Ir. Nismawati, M.Si., mengatakan pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi dan pemantauan harga, khususnya terhadap komoditas pangan yang menjadi penyumbang utama inflasi.
Ia mengarahkan perangkat daerah terkait untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan, melakukan pemantauan harga secara berkala, serta mengambil langkah cepat apabila terjadi kenaikan harga yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
“Pengendalian inflasi harus dilakukan secara bersama-sama melalui penguatan koordinasi, pemantauan harga, menjaga ketersediaan pasokan, dan memastikan distribusi berjalan lancar,” ujarnya.







