Kendari, kendarikota.go.id – Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, menjadi narasumber dalam acara talk show yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) dengan tema “Cara Kendari Mengatasi Sampah”. Dialog interaktif ini berlangsung di luar studio, tepatnya di Kantor Balai Kota Kendari, Selasa (8/7/2025). Dialog ini menghadirkan diskusi mendalam mengenai penanganan persoalan sampah di Kota Kendari.
Dalam pemaparannya, Wakil Wali Kota menegaskan bahwa persoalan sampah menjadi salah satu dari empat isu prioritas pemerintah kota, selain banjir, jalan rusak, dan air bersih. Ia menjelaskan bahwa penumpukan sampah kerap memperparah banjir akibat saluran air yang tersumbat.
Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Kendari telah membentuk Tim Sapu Jagat yang beranggotakan 48 personel dan bertugas setiap hari membersihkan drainase serta sungai. Tim ini diperkuat dengan bantuan perahu dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Meski demikian, Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, mengakui bahwa tantangan besar masih terdapat dalam hal penegakan peraturan daerah. Ia menyoroti kawasan Eks MTQ Kendari yang tetap menjadi lokasi pembuangan sampah sembarangan, meskipun telah disediakan 35 unit tempat sampah.
Ia mengingatkan masyarakat akan keberadaan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah, yang mencantumkan sanksi pidana hingga enam bulan penjara dan denda maksimal Rp50 juta.
Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, turut mengungkap kondisi fiskal Pemkot Kendari yang menghadapi tantangan besar. Saat ini utang daerah mencapai Rp512 miliar, sementara pendapatan hanya sekitar Rp400 miliar. Kondisi ini membuat pemerintah kota harus proaktif mencari bantuan ke pemerintah pusat, termasuk melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian PUPR untuk mendapatkan dukungan program dan peralatan persampahan.

Menutup diskusi, Sudirman mengakui masih terbatasnya armada pengangkut sampah di Kendari. Dengan jumlah penduduk sekitar 366 ribu jiwa menurut data resmi, bahkan diperkirakan lebih dari 500 ribu jiwa, Kendari hanya memiliki 39 unit truk sampah. Jumlah ini jauh berkurang dibandingkan era sebelumnya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa seluruh sampah tetap bermuara ke TPA, meskipun proses pengangkutan kerap mengalami keterlambatan. Ia mengajak masyarakat untuk disiplin membuang sampah dan membayar pajak sebagai bentuk kontribusi terhadap kebersihan kota.
Turut hadir dalam talk show tersebut, akademisi Lies Indrayani. Dia memaparkan pendekatan holistik dalam pengelolaan sampah melalui aspek teknologi, institusi, dan sosial-ekonomi budaya. Ia menyebutkan bahwa sampah dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti kompos dan bahkan aspal berbahan plastik. Dari sisi regulasi, ia menilai Kota Kendari telah memiliki payung hukum yang kuat, namun keberhasilan tetap bergantung pada keterlibatan masyarakat secara aktif.

Ia juga merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang mencatat bahwa 73% sampah di Kendari merupakan sampah organik, di mana 53% di antaranya berasal dari rumah tangga. Ia menyebut bahwa pengelolaan sampah rumah tangga sebetulnya dapat dilakukan dengan teknologi sederhana, seperti ember tumpuk atau keranjang komposter.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok, yang menjadi ancaman serius bagi lingkungan. (FA/NA/KM)











