Kendari, Kendarikota.go.id – Pemerintah Kota Kendari mendorong penguatan budaya literasi melalui kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut dibahas dalam Pertemuan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Meeting) yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari, Rabu (30/9/2026).

Mengusung tema “Penguatan Budaya Literasi Menghadapi Globalisasi untuk Mewujudkan Masyarakat Kota Kendari yang Literat, Maju dan Berdaya Saing”, forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, pendidikan, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, media hingga masyarakat.

Bunda Literasi Kota Kendari Shintya Putri Anawula Sudirman mengatakan, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat membutuhkan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, mengambil keputusan serta menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Karena itu, menurut Ketua TP PKK Kota Kendari ini, penguatan literasi tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga. Pemerintah, sekolah, keluarga, perguruan tinggi, perpustakaan, dunia usaha, media, komunitas dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.
“Sebagai Bunda Literasi Kota Kendari, saya ingin mengajak kita semua untuk menjadikan literasi sebagai gerakan bersama yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai kegiatan seremonial,” ujarnya.
Bunda Literasi juga menyoroti tantangan literasi di tengah perkembangan teknologi. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu membaca, tetapi juga harus mampu memilah informasi, memahami teknologi digital dan mencegah penyebaran informasi yang keliru.
Bunda Literasi berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan komitmen, kolaborasi, program nyata serta pembagian peran yang dapat dijalankan bersama.
“Pemerintah menguatkan kebijakan, sekolah menumbuhkan budaya belajar, keluarga menjadi rumah pertama literasi, perpustakaan menjadi pusat pengetahuan, komunitas menjadi penggerak, dunia usaha menjadi mitra, dan masyarakat menjadi pelaku utama,” katanya.
Bagi Bunda Literasi, literasi pada akhirnya bukan sekadar angka atau program, tetapi bagian dari upaya membentuk masyarakat yang mampu menghadapi perubahan.
“Ketika seluruh elemen bergerak bersama, literasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membuka kesempatan, memberdayakan masyarakat dan membangun generasi Kota Kendari yang cerdas, kreatif, kritis, berkarakter dan mampu menghadapi tantangan global,” pungkasnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari Rukmana mengungkapkan, penguatan literasi menjadi semakin penting karena globalisasi membawa perubahan besar terhadap arus informasi dan budaya masyarakat.
Di satu sisi, perkembangan tersebut membuka peluang belajar yang lebih luas. Namun di sisi lain, terdapat tantangan berupa rendahnya minat baca, kemampuan menyaring informasi yang belum optimal, maraknya disinformasi hingga potensi lunturnya nilai budaya lokal.
Berdasarkan data Perpustakaan Nasional tahun 2025, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Kendari tercatat 13,77. Sementara Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) berada pada angka 63,17. Data tersebut menjadi salah satu dasar perlunya penguatan gerakan literasi secara lebih terarah dan melibatkan berbagai pihak.
“Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyatukan pandangan dan membangun komitmen bersama dalam memperkuat budaya literasi di Kota Kendari,” kata Rukmana.
Forum tersebut tidak hanya diisi pemaparan kondisi literasi, tetapi juga diskusi dan curah pendapat antar-pemangku kepentingan. Guru Besar UHO sekaligus Ketua GPMB Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Prof. Dr. Hanna, M.Pd., turut memberikan pemaparan mengenai kondisi literasi Indonesia dan tantangan globalisasi.
Sementara Rukmana memaparkan strategi dan kebijakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Sebanyak 80 peserta dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi, pengelola perpustakaan kelurahan, taman bacaan masyarakat, komunitas literasi, media massa, platform digital, mitra literasi seperti BEI dan OJK, serta Bunda Literasi se-Kota Kendari.
Melalui forum tersebut, Pemkot Kendari menargetkan lahirnya kesepakatan mengenai peran masing-masing pihak, potensi hambatan dan solusinya, skema kolaborasi serta mekanisme koordinasi lanjutan.







