Kendari, kendarikota.go.id – Asisten II Pemerintah Kota Kendari menghadiri rapat pembahasan inflasi dan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Kendari tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (4/5/2026).

Rapat tersebut merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah yang dilakukan secara berkala oleh pemerintah bersama instansi terkait.
Mewakili Pemerintah Kota Kendari, Asisten II Nismawati menyampaikan pentingnya sinergi antarinstansi dalam menjaga stabilitas harga.
Menurutnya, inflasi yang terkendali akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.

Nismawati menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kendari terus berkomitmen dalam menjaga inflasi agar tetap berada pada level yang aman.
Berbagai kebijakan strategis terus dilakukan guna mengantisipasi gejolak harga di pasar. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga.
“Pemerintah juga rutin melakukan pemantauan harga di berbagai pasar tradisional maupun modern Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini potensi kenaikan harga yang signifikan,” ungkapnya.

Nismawati juga menyoroti peran penting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas harga.
Ia menyebutkan bahwa TPID harus mampu mengambil langkah cepat dan tepat dalam merespons kondisi di lapangan Koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci utama dalam pengendalian inflasi.

Sebagai penutup, asisten II menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
Ia berharap seluruh stakeholder dapat terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga. Dengan langkah yang terkoordinasi, diharapkan kondisi ekonomi Kota Kendari tetap stabil. Upaya ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam rapat tersebut, Plt Kepala Badan Pusat Statistik kota Kendari Sri Aryani.SST.M,Si. memaparkan perkembangan Indeks Harga Konsumen Kota Kendari.
Berdasarkan data, pada April 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 2,83 persen Inflasi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 2,95 persen. Kelompok transportasi dan pendidikan juga mengalami kenaikan cukup tinggi masing-masing sebesar 5,00 persen dan 5,07 persen,” jelasnya.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,26 persen Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan, yaitu pakaian dan alas kaki. Kelompok tersebut tercatat mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,11 persen dan 1,85 persen.








