Kendari, kendarikota.go.id- Pemerintah Kota Kendari menggelar rapat koordinasi menindaklanjuti hasil kunjungan Menteri ATR/BPN Republik Indonesia terkait urusan pertanahan lingkup Pemerintah Kota Kendari, Kamis (12/6/2025).
Rapat dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, rapat tersebut turut hadir dari Kepala BPN Kota Kendari, Asisten I Setda, Kepala Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertanahan, Inspektur Kota Kendari, hingga Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Kendari.
“Banyak aset kita yang sudah lama masuk di BPN tapi belum bersertifikat. Prioritas kita sekarang adalah menyelesaikan itu terlebih dahulu, bukan yang baru,” tegas Sudirman dalam rapat.

Wakil Wali Kota Kendari menekankan bahwa, fasum-fasum perumahan menjadi prioritas utama karena menyangkut kepentingan masyarakat luas dan masa depan tata ruang kota.
Menurutnya, banyak kasus ditemukan di lapangan di mana fasum yang seharusnya digunakan untuk ruang terbuka hijau, taman, atau tempat ibadah justru dibangun ulang menjadi hunian komersial.
“Kalau aset-aset ini sudah bersertifikat, kami yakin tak akan ada lagi fasum yang diubah jadi rumah-rumah untuk dijual. Ini soal perlindungan aset negara dan hak masyarakat atas ruang publik,” ujarnya.
Sudirman mengungkapkan, berdasarkan pemetaan Pemkot, ada sekitar 600 bidang tanah yang belum bersertifikat. Dari jumlah tersebut, 279 ditargetkan dapat disertifikasi tahun ini.

Pemerintah Kota Kendari menargetkan, penyerahan sekitar 200 sertifikat tanah akan dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang.
“Kepala BPN sudah sepakat. Kami targetkan pada 17 Agustus nanti, 200 sertifikat akan resmi diserahkan. Ini simbol kemerdekaan bagi aset kota dari ketidakpastian hukum,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertanahan Kota Kendari, Satria Damayanti, menegaskan bahwa pengamanan aset pemerintah daerah bukan hanya soal fisik, tapi juga administrasi. Sertifikat adalah dokumen vital dalam menjamin legalitas kepemilikan lahan milik negara.
“Kami menindaklanjuti arahan Menteri ATR/BPN saat berkunjung ke provinsi. Semua aset pemerintah daerah harus dilengkapi pengamanan administratif, yaitu sertifikat,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sejak 2019, pihaknya telah mengajukan pensertifikatan atas 19 bidang tanah pengadaan dan sekitar 13 bidang fasum-fasos yang diserahkan oleh para pengembang perumahan. Namun, progresnya masih dinilai lamban, sehingga perlu penguatan koordinasi dengan BPN agar proses bisa dipercepat.
“Ini bukan hanya kerja satu dinas. Banyak OPD yang terlibat, termasuk saat pengadaan tanah. Maka dari itu, rapat koordinasi hari ini penting untuk menyelaraskan langkah dan mempercepat prosesnya,” ujarnya. (AF/NA/CO)











