Kendari, kendarikota.go.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kendari, Amir Hasan, membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kendari yang digelar oleh Bagian Ekonomi Setda Kota Kendari di Ruang Rapat Wali Kota, Kamis (11/12/2025). Agenda ini dipandu oleh Asisten II Setda Kota Kendari, Nismawati, dan dihadiri sejumlah pimpinan instansi strategis.
Dalam sambutannya, Sekda Amir Hasan menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga komoditas menjelang akhir tahun. Ia menegaskan bahwa TPID harus memperkuat langkah antisipatif karena momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu diikuti oleh peningkatan permintaan kebutuhan pokok.
“Melalui pembukaan resmi rapat ini, saya berharap seluruh pihak dapat memperkuat komitmen menjaga keseimbangan pasokan dan harga,“ ujarnya.

Setelah pembukaan, Deputi Kepala Bank Indonesia Sultra, Tahthit Suryono, menyampaikan paparan mengenai perkembangan inflasi daerah. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan identifikasi terbaru, sejumlah komoditas mengalami tekanan harga yang patut diwaspadai.
“Kenaikan ini sebagian besar berasal dari komoditas pangan dan angkutan udara. Menjelang Nataru, harga angkutan udara semakin meningkat dan perlu dikawal dari bulan ke bulan,” jelasnya.
Suryono turut memaparkan tren inflasi year-on-year yang mengalami penurunan pada Oktober, namun tetap berada pada level yang memerlukan kewaspadaan. Ia menegaskan perlunya antisipasi terhadap lonjakan permintaan jelang akhir tahun.
“Jika melihat historinya, setiap Nataru selalu ada pola kenaikan. Beberapa komoditas seperti ikan segar, cabai rawit, dan bawang merah menunjukkan risiko tinggi terhadap kenaikan harga,” tambahnya.

Selain pangan, ia juga menyoroti pentingnya efektivitas operasi pasar murah. Operasi pasar harus tepat waktu dan tepat lokasi. Jika dilaksanakan dekat pasar, masyarakat bisa langsung membandingkan harga sehingga intervensi akan lebih efektif. Ia menekankan bahwa pemilihan komoditas harus disesuaikan dengan kebutuhan intervensi, bukan sekadar variasi produk.
Bank Indonesia turut memaparkan sejumlah program intervensi yang telah dilakukan, termasuk dukungan kepada kelompok nelayan melalui bantuan peralatan dan teknologi informasi cuaca yang terkoneksi dengan BMKG.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan ketahanan pasokan pangan khususnya komoditas perikanan. Selain itu, BI mendorong optimalisasi infrastruktur penyimpanan, kelancaran distribusi antardaerah, serta penguatan pasar pangan strategis.
Rapat kemudian dilanjutkan dengan pembahasan materi dari Pimpinan Wilayah Bulog Kanwil Sultra dan Kepala BPS, yang turut memberikan gambaran kondisi stok beras, pergerakan harga pangan, serta proyeksi inflasi jelang akhir tahun. Seluruh pihak bersepakat memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.












